Rabu, 06 Desember 2017

"Francisca C. Fanggidaej : Pejuang Perempuan Indonesia yang tak begitu dikenal"


Diantara nama-nama pejuang perempuan yang memenuhi panggung sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, barangkali nama Francisca C. Fanggidaej tak begitu dikenal. Hampir tak ada literatur yang mengulas hidup dan perjuangannya. Namanya tenggelam bersamaan dengan hancurnya Partai Komunis Indonesia (PKI) pasca Peristiwa G 30 S 1965.

Walau begitu namanya justru tercatat dalam buku peringatan Konfrensi Kalkuta yang sangat bersejarah. Dalam konfrensi itu, sebagaimana dicatat Ita Fatia Nadia: Francisca C. Fanggidaej yang juga akrab dipanggil Sisca, berpidato untuk memberitahukan kepada dunia International tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Konfrensi Kalkuta sendiri merupakan konfrensi pemuda dari negara-negara terjajah yang sedang memperjuangkan kemerdekaan yang diselenggarakan di kota Kalkuta, India pada 1948 dan embrio dari konfrensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955. (h. 9)

Saya sendiri baru mengenal namanya sekitar tahun 1999 via esai memoar yang dia tulis menyambut Indonesia yang sedang merayakan tahun emas kemerdekaannya. Pada momentum ini, Sisca menulis esai yang menggugah dan memberanikan tentang ingatannya terhadap perjuangan di sekitar kemerdekaan Indonesia berjudul Sekelumit Pengalaman Pada Masa Revolusi Agustus 1945-1949 (Mengenang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 50 tahun lalu) dengan nama F.C Fanggidaej. Esai memoar ini diambil dari internet yang kala itu masih langka dan tampaknya sudah tersebar luas di kalangan aktivis pro demokrasi. Sejak itu nama Fanggidaej tak terlupakan.

Dalam esai ini, Sisca mengajukan gambaran rakyat Indonesia yang miskin dan sengsara serta pertanyaan yang dilematis:
CoverPada 17 Agustus 1995 ini kita peringati ulang tahun ke-50 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dengan Republik Indonesia yang didirikan sebagai hasil Proklamasi 17 Agustus 1945 itu rakyat Indonesia membentuk negaranya yang merdeka, menegaskan identitasnya sebagai bangsa yang bebas dari kolonialisme.
Tujuan dan cita-cita Republik Indonesia Proklamasi adalah untuk mengangkat, terutama mayoritas rakyat yang sengsara dari lembah kemiskinan ke kehidupan yang lebih baik dan layak, punya rumah dan cukup makan, di mana semua orang dihargai dan dihormati. Untuk memperjuangkan semuanya itu orang harus ada hak-hak politik dan demokrasi. Di Indonesia Orde Baru, hak untuk mengorganisasi diri dengan bebas, untuk mengeluarkan pendapat dan kritik dengan bebas secara lisan dan tertulis, tak mungkin direalisasi karena sistem kekuasaan yang represif yang telah dibangun dengan intensif selama 30 tahun terakhir ini.
Pada awal Orde Baru jutaan orang Indonesia tak bersalah dibunuh dan ratusan ribu lainnya dilempar ke dalam penjara dan kamp konsentrasi dalam satu tragedi nasional yang dampaknya sampai hari ini belum teratasi. Dalam keadaan demikian perlukah Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ke-50 diperingati? Dengan pertanyaan ini di hati dan di kepala, saya menukik ke masa lampau, 50 tahun yang lalu ketika saya sebagai pemuda berumur duapuluhan, dengan antusiasme yang menyala-nyala dan semangat pantang mundur menerjunkan diri ke dalam kancah gejolak dan pergolakan revolusi di Surabaya.

Kesimpulan bagi Siscapun jelas:
…Ya! Perlu!. Kita tidak boleh lupa pengorbanan yang begitu besar yang sudah diberikan oleh berbagai generasi pejuang demi mewujudkan cita-cita Proklamasi, yaitu suatu masyarakat Indonesia yang sungguh bebas, demokratik dan berkeadilan sosial. Kita masih jauh dari perwujudannya. Maka perjuangan itu masih berlanjut pada hari kini dan di masa depan. Pada hari ini harapan kita tak lain bahwa generasi muda yang kini berjuang untuk cita-cita itu mengambil semangat dan jiwa dari generasi kami yang pada Revolusi Agustus itu bergerak, dan agar mereka terus bekerja dengan cara mereka sendiri, di dalam kondisi nasional dan internasional yang sudah banyak berubah, dan akhirnya mencapai tujuannya!
***
Francisca C Fanggidaej dilahirkan di Pulau Timor pada 16 Agustus 1925 dan dibesarkan dalam keluarga yang menjadi produk politik penjajahan Belanda. Ayahnya bernama Gottlieb, berasal dari Roti, dikenal sebagai “Belanda Hitam” sedang ibunya Magda Mael berasal dari Timor. Bahasa utama dalam keluarga adalah bahasa Belanda yang membuat Sisca lebih fasih berbahasa Belanda daripada Indonesia. Semula ia bergabung dalam kelompok diskusi di kalangan intelektual muda Maluku di Surabaya di bawah kepemimpinan Gerit Siwabessy dan Dr. Latumenten. Dari group ini, ia dikirim ke Yogyakarta untuk menghadiri Kongres Pemuda di Yogyakarta pada November 1945 yang menghasilkan Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) yang mempunyai dua dewan: Dewan Perjuangan dan Dewan Pembangunan. Di dalam Kongres itu lahir juga PESINDO (Pemuda Sosialis Indonesia), yang merupakan fusi dari 7 organisasi pemuda yang bercita-cita sosialisme.
PESINDO sendiri mempunyai kekuatan bersenjata yang setanding dengan kekuatan TRI ketika itu. Memiliki kekuatan darat dan artileri, “Pesindo Laut” di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, begitu juga kesatuan putri yang terdiri dari pasukan tempur, kesatuan pengintai dan Palang Merah. Di Pesindo inilah, Sisca mengalami pahit getir perjuangan: mulai dari mewakili Pesindo di berbagai pertemuan internasional sampai pengejaran tentara Siliwangi ketika Peristiwa Madiun meletus. Bersama rombongan Amir Syarifuddin, Sisca harus berjalan jauh di malam hari melewati hutan-hutan dan desa-desa di Jawa Timur untuk menghindari pertemuan dengan tentara Siliwangi sementara ia sendiri dalam kondisi hamil. Dalam situasi ini ia pun dapat memetik pelajaran dari Amir Syarifuddin yang ia segani mengenai taktik menjalankan perang rakyat. (h.144) Peristiwa Madiun sendiri memakan korban: di samping pimpinan teras seperti Amir Syarifuddin, juga suaminya, Karno. Sisca tertangkap tapi tak dieksekusi barangkali karena kehamilannya.

Pasca Peristiwa Madiun Sisca pun memimpin Pesindo. Pada kongres Pesindo tahun 1950, Pesindo dinyatakan bukan lagi sebagai organisasi “pemuda sosialis” tetapi organisasi “pemuda rakyat”. Ia bersama Ir. Setiadi ditunjuk untuk memimpin organisasi “pemuda rakyat”. Karena merasa sudah terlalu tua dan tak cocok lagi berkiprah di organisasi pemuda, ia bersama Ir. Setiadi pun mengundurkan diri dari Pemuda Rakyat yang kemudian diteruskan Sukatno. Sisca lantas aktif di bidang kewartawanan dan memimpin INPS (Indonesian National Press Service) sambil terus bekerja sebagai freelance untuk Kantor Berita “Antara”. Pada tahun 1964, selaku anggota Komisi Luar Negeri DPR -GR ia menghadiri konfrensi Asia Afrika III di Aljazair sebagai anggota rombongan penasihat Presiden Sukarno. Konfrensi ini gagal karena tiba-tiba terjadi kudeta Boumediene. Sisca lantas diberi tugas lain dari Komite Perdamaian di tanah air yaitu menuju Helsinki untuk menghadiri konfrensi perdamaian sedunia tahun 1965. Sesudah itu ia lama tak kembali dan namanya nyaris tak terdengar. G 30 S meletus yang memaksanya menjalani hidup di negeri orang bertahun-tahun.

Francisca C. Fanggidaej sekarang tinggal di Zeist, sebuah kota kecil di provinsi Utrecht, Belanda. Di usia tuanya, ia pun masih mengikuti perkembangan situasi dan kondisi politik di Indonesia. Semua hidup dan perjuangannya sampai tahun 1965, ia tuangkan dalam buku Memoar ini dalam gaya bertutur yang lancar dan linear. Buku Memoar ini tentu adalah persembahan yang sangat berharga bagi rakyat Indonesia yang sedang berjuang melawan serangan neoliberalisme. Karenanya buku ini tentu layak dibaca sebagai cermin dan semangat terus berjuang menegakkan harkat, terlebih oleh kaum perempuan Indonesia yang terancam semakin disingkirkan dari ruang public dan politik. Bagi Sisca, tentu memoar ini belum mewakili seluruh hidupnya. Cerita dan kenangan-kenangan lain belum terungkapkan. Mungkin biarlah sejarawan yang menjawabnya…?

AJ Susmana, Koordinator Departeman Keuangan Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD)
—————————————–
Data Buku:
Judul: Memoar Perempuan Revolusioner
Penulis: Fransisca Fanggidaej
Penerbit: Galang Press, Yogyakarta, 2006
Tebal: 209 halaman
ISBN: 9793627670
Catatatan: Artikel ini sebelumnya pernah dimuat di tabloid PEMBEBASAN.
Sumber :Berdikarionline online
dikutip: https://www.facebook.com/NTTtempodoloe/

"Note: Mari, Rubah Model Pendidikan Indonesia"

Tuan Presiden, Tuan dan Nyonya Gubernur, Tuan dan Nyonya Bupati/Walikota.... sempatkanlah waktu anda menonton vidio ini... Kebanyakan sekolah kita masih dipenjara dan dijajah model masa lalu, menciptakan robot pekerja... mari menciptakan generasi mada depan yang kreatif dan inovatif.

Ini juga terjadi didunia birokrasi dan dunia kerja lainnya. PNS kebanyakan adalah robot. Robot aturan, robot atasan. Ini hasil didikan penjajah, didikan para mandor bukan fasilitator. Menekankan standar fisik bukan kreatifitas dan inovasi. Akibatnya banyak yang jadi penjilat, jadi pembunuh karir sesama. Ketika kinerja masi diukur dan ditekan dengan masuk kantor jam 7 pagi dan pulang jam 3 siang, absen senam dan absen pembinaan rohani dan bukan membangun perilaku kreatif tentang target kerja, inovasi dalam tugas dan tanggung jawab, maka jangan bermimpi ada PNS yang punya solusi terhadap banyak persoalan pelayanan publik. Ya, kita sedang menciptakan robot pekerja karena dosa sistem pendidikan masa lalu. Saatnya sekarang untuk memperbaiki generasi masa depan, jika tidak mau disumpah serapah oleh generasi masa depan. 

Khusus PNSD, silahkan Tuan dan Nyonya cek, berapa banyak mereka yang karena takut aturan masuk jam 7 pagi, mereka celaka dijalanan, mereka lebih memilih tidak alpa absen pagi di kantor ketimbang alpa menyiapkan sarapan pagi buat anak dan keluarga, akibatnya anak ke sekolah dengan makan seadanya bahkan tidak makan ke sekolah. Lalu generasi seperti apa yang akan lahir dimasa depan? Tuan dan Nyonya bertanggungjawab, kita semua bertanggungjawab!!!
Silahkan Tuan dan Nyonya cek berapa banyak PNS yang lemas, ngantuk disaat jam kerja produktif karena tidak sarapan ke kantor. Tidak istrahat cukup hanya karen bangun jam 5 - 6 pagi demi menyesuaikan jam 7 untuk masuk kantor??.

Tuan dan Nyonya, diluar sana, jam kerja kebanyakan mulai jam 8 atau jam 9. Kenapa demikian?, karena otak kita justru produktif di jam tersebut. Tubuh kita sudah selesai diberi asupan yang pas sebelumnya. Mereka rileks bekerja tanpa harus mendengar arahan pimpinan di apel pagi dan pulang yang isinya hanya itu-itu saja. Ya, itu karena si pimpinannya juga ROBOT BERNYAWA. Takut atasan diatasnya, takut kehilangan jabatan.

Hanya orang bahlul yang menutup mata dan telinga terhadap masukan. Dan orang seperti ini, tidak mau berubah karena dia juga ROBOT. Sesama ROBOT yang memerintah dengan ilmu ROBOT untuk menjaga kekuasaan para ROBOT. Mari menciptakan dunia baru manusia bukan robot. Dunia masa depan, bukan dunia masa lalu!!!.

Hai para Guru, ayukh berinovasi dalam proses belajar mengajar... kalian penentu masa dapan.
Semoga sekolah GMIT yang baru sudah berubah metode kearah seperti ini.

NHN, 15092017

https://www.facebook.com/cintailmudanhikmah/videos/1162051587194525/

https://www.facebook.com/yustinawaty.hasibuan/videos/10214039532481474/

 

"Note untuk Penguasa"

Awas, tuan dan nyonya talalu makan puji, lupa diri, melayang tinggi,
Nanti jato makan tanah penuh tai anjing baru sadar e...
Asyik ju nonton orang mengong dong bakumpul...
Awas, tuan dan nyonya kena isap dari lintah darat,
Habis daging dan darah, tinja pun mereka makan...
Asyik ju nonton orang mengong dong ada mabok...

Awas, tuan dan nyonya disanjung sampai langit,
Nanti dong orang pertama yang buat besong telanjang...
Asyik ju nonton orang mengong dong ada siap peti mati...
Awas, tuan dan nyonya lagi diarak menuju bara api,
Nanti besong mampos dorang menari gembira...
Asyik ju nonton orang mengong berlagak paling tau...

Woi sadar woi, itu tahta bisa terbakar,
Banyak buaya dan singa lapar...
Su jadi mayat baru dong kubur besong sambil menari...
Bikin telinga tuli, mata buta, hati batu,

Awas, roda berputar, besong kena gilas...
Lupa besong melihat kebawah,
Ada tai yang bau busuk, bisa jadi pupuk...

Lu mengong sendiri su kawan,
Lupa diri lu dulu tidor di lompor deng kitong...
Lupa diri su kawan, tapi kitong sonde lupa lu....
Kitong kenal bae sang lu, waktu kitong sama-sama perut kosong!!!
Baca ko sadar? Baru batareak "omong deng?????"
Omong deng lu to mengong!!! BOA ni....
Sadar su Telor, hari su siang!!!

NHN, 25 September 2017.